Senin, 21 April 2014

Tangisan alam yang rusak

disudut kota aku menatapnya dari kejauhahan
lirih hatiku gundah gulana
ingin aku menatanya dengan pikirku
namun kodratku sebagai seorang wanita
aku bukan insan kuat , yang membuat takjub banyak orang
lazimnya aku memang manusia biasa

setiap hari didetik jam tangan yang kupandang selalu
aku melihat betapa kelalaian itu masih menjadi-jadi
sisi buruk kota ini masih tertuang dimana-mana
ada saja segeintir oknum-oknum yang mengotorinya
baik itu secara tata bahasa bahkan prilaku
yang menodai negeriku

Tidakkah mereka sadar
betapa alamku sedang menangis
hanya menyaksikan sejumlah orang berpangku tangan
seolah tak mau tau
tak sedikitpun inisiatif dan naluri mereka
tergugah untuk memperbaharui kembali
masih saja diincaran pandangan tajam mataku

beribu slogan terpampang dimana-mana
ajakan-ajakan palsu , massih lazim kudengar
siapa lagi kalau bukan kita yang merubahnya ?
mengapa susah mengabdi demi tanah air sendiri ?
bukankah kita diciptakan dengan kedua tangan untuk berkarya ?
orang cacat saja mampu melakukan banyak hal keunikan
kenapa kita tidak  ?





Tangisan alam ku

disudut kota dari kejauhan aku memandang
lirih hati dan gunda gulana masih saja terpikir olehku
betapa ratapan negeriku semakin menjadi-jadi
tata kota yang membuat ku ingin merubahnya

namun aku adalah insan manusiawi
yang punya keterbatasan atas kodratnya
sebagai wanita aku mempunyai keterbatasan
tak semudah yang dipikirkan
sulit untuk menatanya kembali tanpa kebersamaan

Tidakkah kita sadar
betapa alamku telah menangis ?
mereka hanya dapat berpangku tangan
seolah tak mau tahu dengan problema negeri ini
atau mereka berpura-pura tidak tahu
menutup mata dan telinga untuk sebuah perubahan

mengapa susah mengabdi untuk negeri kelahiran sendiri ?
bagaimana mungkin generasi kita akan bertahan dengan kondisi yang rusak
apakah tidak ada keinginan untuk merubah alam?
 apakah kita tega melihat alam yang begitu indah ini , menjadi rusak   ?